Prabowo, Entah Apa Yang Merasukimu?

Oleh: Mixilmina Munir*

 

Entah apa yang merasukimu
Hingga kau tega mengkhianatiku
Yang tulus mencintaimu
Salah apa diriku padamu
Hingga kau tega menyakiti aku
Kau sia-siakan cintaku

 

Barangkali tidak ada tokoh politik di Indonesia yang punya sikap seteguh Ibu Megawati. Kokoh dalam bersikap dan kuat dalam menjalankan ideologi partai.

 

Menjaga pasang-surut partai dengan segenap kekurangannya, mencintai kader tanpa sedikitpun benak mengkhianatinya.

 

Megawati Soekarnoputri, Ketua umum PDI Perjuangan patut dijadikan contoh dalam mengambil sikap politik. 2004 dan 2009, Beliau tidak cengeng merengek-rengek minta jatah menteri, diminta gabung dalam kabinet SBY pun menolak.

 

 

Kekuatan ideologi itu yang mengarahkan pilihan politik PDI Perjuangan selama 10 tahun untuk jadi oposisi. Karena Pemilihan presiden tidak semata-mata rivalitas antara Mega versus SBY, tapi pertarungan gagasan, program dan ideologi.

 

 

“Kalah yo kalah, kalau mau menang mari kita bekerja keras membumikan ideologi partai” itu cambukan yang terus disampaikan kepada kader-kadernya disetiap acara partai.

 

Menjadi oposisi pemerintah selama 10 tahun bukan perkara mudah.

“Kalau elu ingin jadi menteri keluar dari PDIP,” tegasnya seraya mengepalkan tangan sambil menatap kader-kadernya yang bersiap mau menyeberang.

 

 

Bulan Juli lalu saat Prabowo disuguhi nasi goreng di Teuku Umar, dugaan saya Gerindra ingin belajar bagaimana menjadi oposisi yang baik. Prabowo ingin sekuat teman lamanya dalam mengelola partai oposisi, bagaimana cara mencintai kader dan merebut kemenangan.

 

Kira-kira saat makan bersama Ibu Mega menyelipkan cerita bagaimana oposisi adalah juga kekuatan demokrasi. Tentu saja dijabarkan jatuh-bangun dan jungkir-baliknya membangun partai dari oposisi hingga memenangkan Pemilu 2 kali.

 

 

Pada pemilu 2019 ada jutaan rakyat yang memilih Prabowo, entah karena memang suka dia atau karena hanya benci Jokowi. Saat Prabowo putuskan menjadi pembantu Jokowi, ada umatnya yang setuju, tapi yang merasa dikhianati juga tidak kalah banyak.

 

Mereka yang merasa disia-siakan tentu terus bernyanyi tanpa henti, hingga ketemu apa yang telah merasuki Prabowo hingga mau jadi menteri.

 

 

*Pegiat Sosial dan Aktivis 98

#FOLLOW US ON INSTAGRAM