Pentingnya Merawat Harapan di Tengah Pandemi

Oleh : Bramantyo Bagus Cemerlang*

 

Melihat beberapa negara menerapkan Lockdown sebagai solusi untuk menghadapi mewabahnya pandemi COVID-19, banyak masyarakat Indonesia yang latah ikut menginginkannya. Namun, saat kita melihat kondisi Amerika Serikat di tengah penerapan Lockdown, kita akan berpikir dua kali. Masyarakat Amerika justru turun ke jalan dan melakukan demonstrasi menolak Lockdown (Utomo, 2020). Jelas kejadian ini selain berbahaya dari segi penyebaran virus. Selain itu, jika berujung rusuh, stabilitas negara pun akan terganggu di tengah kondisi yang sulit ini. Lantas mengapa ini bisa terjadi? Berlebihan kah jika Lockdown ditakutkan berujung kerusuhan?

Kerusuhan menurut Mohtar Mas’oed dalam Haryanto dkk (1995) terbagi menjadi dua, yaitu mob dan riot. Mob adalah kerusuhan dimana kerumunan pelakunya sangat emosional terhadap keadaan, bersifat destruktif dan kekerasan namun masih memiliki tujuan yang terarah (strategi). Lalu riot adalah kerusuhan yang kerumunan pelakunya sangat emosional terhadap keadaan dan bertindak membabi buta tanpa dibarengi tujuan yang terarah (cenderung terbawa emosi).

Apa yang memengaruhi kerumunan melakukan kerusuhan? Jika kita lihat kembali pada penalaran mob dan riot, kita harus menggaris bawahi kata-kata “sangat emosional terhadap keadaan”. Dapat disimpulkan, kerusuhan terjadi saat kerumunan terlampau emosional dengan keadaan. Emosi meningkat saat kerumunan memiliki imaji akan harapan kondisi ideal yang terlampau jauh dari keadaan dan sistem sosial yang ada tidak mampu memenuhinya. Mereka kemudian membuat kerusuhan demi merusak sistem yang menghalangi mereka mencapai harapannya. Begitulah bagaimana terdapat kesenjangan antara harapan dan sistem sosial yang ada bisa menimbulkan keusuhan. Hal ini kemudian oleh Mohtar Mas’oed yang mengutip T.R. Gurr (ibid) disebut Deprivasi Sosial.

Deprivasi sosial terbagi menjadi tiga macam, yaitu deprivasi akibat kemerosotan, deprivasi aspirasional dan deprivasi progresif. Deprivasi akibat kemerosotan terjadi saat keadaan yang semulanya ideal tiba-tiba berubah dan membuat hadirnya sistem sosial baru yang tidak bisa membuat keadaan kembali normal. Lalu, deprivasi aspirasional adalah sebaliknya. Pada suatu waktu, harapan meningkat drastis di tengah sistem sosial yang belum memadai untuk memenuhi harapan tersebut. Meningkatnya harapan ini bisa terjadi karena efek demonstrasi yang membawa propaganda harapan-harapan baru, artikulasi ideologi atau keyakinan baru serta munculnya perubahan-perubahan yang memberikan harapan. Terakhir, deprivasi progresif adalah kondisi dimana pada awalnya harapan dan kemampuan sistem sosial naik secara bersamaan dan saling memenuhi. Namun, di tengah jalan tiba-tiba kemampuan sistem sosial menurun sehingga tidak bisa memenuhi harapan yang terus meningkat.

Di tengah pandemi COVID-19 yang sedang terjadi, baik mob ataupun riot sangat potensial untuk terjadi. Mengingat konsep deprivasi sosial, rasa kekecewaan masyarakat terhadap keadaan dapat muncul karena terjadi perubahan keadaan. Perubahan keadaan ini membuat banyak harapan yang akan bertepuk sebelah tangan dan kemampuan sistem sosial benar-benar diuji. Demonstrasi yang terjadi di Amerika Serikat baru-baru ini adalah contoh terjadinya deprivasi sosial akibat kemerosotan. Hal tersebut tercermin dari tuntutan-tuntutan para demonstran yang menginginkan kembalinya kehidupan normal mereka. Mereka ingin potong rambut, kumpul-kumpul di café dan melakukan hal-hal yang biasanya mereka lakukan (opcit). Penerapan Lockdownjelas tidak bisa menjawab harapan-harapan tersebut dan menimbulkan perubahan yang benar-benar ekstrim. Perubahan yang diciptakan oleh sistem Lockdown membuat jarak kesenjangan yang terlampau jauh antara harapan dan kemampuan sistem sosial. Akhirnya hal ini menimbulkan rasa kekecewaan yang kemudian menggerakan kerumunan masyarakat Amerika Serikat untuk berdemo.

Berdasarkan paparan ini, aspek deprivasi sosial harus menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam memilih solusi menghadapi pandemi. Indonesia yang memilih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terlihat sudah banyak belajar dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi akibat deprivasi sosial pada masa-masa silam. Jika memertimbangkan aspek deprivasi sosial, PSBB terlihat lebih ideal daripada Lockdown karena perubahan yang diciptakan tidak sedrastis Lockdown. Hal ini membuat rasa kekecewaan masyarakat tidak terlampau tinggi seperti di Amerika. Namun, bukan berarti rasa kecewa tidak bisa berkembang di kemudian hari.

Layaknya dalam hubungan percintaan, harapan yang terlampau tinggi dan tidak bisa terpenuhi dapat menimbulkan kekecewaan yang pada ujungnya bisa mengakhiri berjalannya suatu hubungan. Namun, itu tidak menjadi justifikasi bagi kita untuk tidak berusaha memenuhi harapan-harapan yang sudah terlanjur diimpikan. Di tengah pandemi, pemerintah harus mampu memelihara rasa kecewa masyarakat, jangan sampai terlalu tinggi dan berlarut. Rasionalisasi-rasionalisasi harus hadir untuk memberi pengertian kepada beberapa harapan yang tidak bisa terwujud di tengah pandemi. Serta peningkatan kemampuan sistem sosial untuk menjawab beberapa harapan harus tetap dilakukan.
Hal-hal yang harus dihindari adalah yang memungkinan terjadinya deprivasi sosial, terutama deprivasi aspirasional. Dimana harapan masyarakat ‘dinaikan’ secara sengaja oleh wacana-wacana liar yang belum tentu realistis. Naiknya harapan yang terlampau tinggi dan tidak dibarengi kemampuan sistem sosial untuk memenuhinya bisa berujung kerusuhan, baik mob ataupun riot. Kerusuhan memang memungkinkan untuk merubah sistem sosial yang dianggap tidak dapat memenuhi harapan. Tapi bukan berarti hal tersebut lantas menghadirkan sistem sosial baru yang lebih baik dan mampu menjawab lebih banyak harapan.

 

*Ketua Komisiariat GMNI Fisipol UGM