Pegiat Sosial Sesalkan Pernyataan Abai Immawan Soal Gantung Diri di Acara Televisi Nasional

SwaraJogja.Com РLembaga Masyarakat bergerak dibidang kesehatan jiwa di wilayah Gunungkidul, Inti Mata Jiwa (IMAJI) menyesalkan pernyataan Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, terkait lemahnya upaya pencegahan gantung diri. Pernyataan Immawan di salah satu siaran televisi nasional dan kini beredar luas di masyarakat dinilai sebagai sikap wabup yang inkonsisten terhadap kebijakan Bupati Badingah yang berkomitmen mengatasi angka bunuh diri dengan mengeluarkan peraturan bupati (perbup) 56/2018 juga adanya pembentukan  Satgas Berani Hidup yang diketuai Immawan sendiri.

“Amat disayangkan pernyataan pak wabup Immawan Wahyudi kepada media itu. Itu jelas mengabaikan masalah penting masih tingginya angka bunuh diri yang saat ini memang belum bisa dituntaskan,” kata Wahyu Widayat, pegiat sosial IMAJI Gunungkidul dalam rilisnya kepada media, Minggu (8/11).

Pernyataan Immawan di program khusus stasiun televisi metro tv tayang beberapa waktu lalu dan baru saat ini tersebar luas di masyarakat menyakitkan seluruh stakeholder yang selama ini bersemangat memberi edukasi sebagai salah satu membangun pemahaman yang baik bagi masyarakat terkait kasus gantung diri.

“Kenapa itu terus kami lakukan menyasar semua lini, ini upaya perjuangan bersama pemerintah untuk bisa menekan angka bunuh diri. Tapi wabup justru di acara metrotv menyatakan hal yang mustahil untuk dapat ditekan. Ini yang kami sesalkan,” ujar Wahyu beberapa kali menjadi mentor pencegahan gantung diri di kalangan pelajar dan kelompok perempuan.

Tak hanya itu, wahyu juga menyayangkan pernyataan Immawan yang menilai mati bunuh diri termasuk mati normal. Pernyataan immawan justru dinilai sebagai bukti 10 tahun jadi wabup tidak menguasai masalah bunuh diri yang ada di medan tugas dan lingkungan hidupnya.

Wahyu mengingatkan Immawan, bahwa beda antara mati normal dengan mati bunuh diri. Mati normal memang menjadi rahasia tuhan yang datangnya tidak bisa diketahui. Tetapi, gantung diri oleh pelakunya diketahui, direncanakan dan ditentukan sendiri jam dan harinya disaat sedang didera masalah dan beban hidup. “Saya malah jadi ragu kalau Gunungkidul tidak menemukan pemimpin yang perspektif sosialnya tidak terbentuk baik. Atau pak immawan malah tidak tahu bahwa pemerintah dan imaji sedang bekerja untuk menekan angka bunuh diri ini,” sentil Wahyu.

Joko Yanu selaku Direktur Imaji menyatakan lembaga yang dipimpinnya berdiri sejak 2017 untuk implementasi program sosial kesehatan masyarakat. Kegiatan edukasi, sosialisasi dan pelatihan dibidang kesehatan jiwa untuk mendorong masyarakat semakin peduli kesehatan jiwa di lingkungan tempat tinggalnya.

Joko mengatakan, sejauh ini Imaji terjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, PKH dan sekolah di Gunungkidul dalam rangka mengajak seluruh elemen masyarakat memahami akar masalah kesehatan jiwa, utamanya terkait persoalan merebaknya kasus bunuh diri di Gunungkidul. “Termasuk tahun 2018 keberadaan kami turut membidani lahirnya Perbup No 58Tahun 2018 sebagai keseriusan bersama pemerintah. Bukan gerakan yang pasrah dan membiarkan terus naiknya angka bunuh diri,” kata Joko.

Dalam perbub yang ikut dibidani Imaji, menekankan integrasi dan kerjasama seluruh elemen masyarakat dan peran pemerintah tentang upaya-upaya berkesinambungan terkait pencegahan dan penanggulangan bunuh diri.

Rupanya, lanjut Joko, Perbub ini tidak diikuti dengan perubahan cara berpikir di tingkat pimpinan daerah di Gunungkidul yang justru menunjukkan sikap pesimistis dan “blunder” karena mengingkari Perbub 56 tahun 2018.

Imaji menilai masalah gantung diri di Gunungkidul erat dipengaruhi oleh persoalan ketahanan mental/jiwa masyarakat. Pemkab harusnya menyikapi bunuh diri dengan dukungan sistem, fasilitas dan infrastruktur terkait kesehatan masyarakat.

Sekedar diketahui, potongan tayangan wawancana program khusus metrotv dengan ketua satgas berani hidup yang dijabat wakil bupati Immawan Wahyudi beredar luas di masyarakat. Pernyatan Immawan yang terkesan menganggap sepele masalah tingginya kasus gantung diri mengundang kritik luas masyarakat di media sosial yang menilai pernyataan Immawan menunjukkan tidak adanya konsistensi dalam bekerja melindungi masyarakat dari bayang-bayang tingginya angka gantung diri mencapai rata-rata diatas 20 kasus setiap tahunnya.