Kepemimpinan, Kedisipilnan dan Keteladanan Kunci Penanganan Pandemi

SwaraJogja.Com – Lima bulan lebih bertahan kerja dari rumah, hikmahnya bisa lebih inten dengan anak anak. Kerelaan untuk mengurung diri di rumah, membatasi interaksi fisik dengan kawan kawan, berharap pandemi ini segera berlalu.

Namun apa daya, kompetensi negaraku terlalu minimalis, bukannya makin berkurang, peningkatan angka positif makin menanjak. Ditengah tingginya angka positif malah bikin kebijakan kebijakan beresiko, buka mall, buka pendidikan tatap muka, dan rencana buka bioskop.

Mall dibuka pengunjung sepi, sebab kelas menangah atas memilih menahan daya beli dengan berhemat, serta mengindari penularan. Kelas bawah tak mungkin pula diharapkan jadi pembeli di mall. Boro boro ke mall, mikir besok melanjutkan makan saja bingung sebab terjadi pemutusan hubungan kerja, atau usaha tutup karena pembatasan sosial. Jadi wajar bila tingkat konsumsi rumah tangga yang menyumbang 56% PDB proyeksinya tetap pada kisaran negatif.

Program perlindungan sosial yang diharapkan mengungkit daya beli, tak bisa berkontribusi banyak di lapangannya jadi automatic stabilizer.

Belajarlah ke banyak negara. Tingginya penderita C19 adalah faktor dominan yang mempengaruhi banyak negara jatuh pada resesi ekonomi. Pandemi menjadi variabel terbesar bagi para ekonom kesulitan dalam membuat pemodelan, dalam menyusun outlook ekonomi.

Banyak lembaga keuangan, seperti ADB, IMF, WB dan OECD mengoreksi proyeksi mereka. Kurang 3 bulan mereka dalam bikin outlook di banyak negara, termasuk Indonesia telah di revisi kembali. Deviasi yang tinggi adalah bukti repotnya menyusun pemodelan ekonomi dalam situasi pandemi.

Menangani C19, dengan indikator positive rate dibawah 3%, fatality rate dibawah 4% (rata data dunia) adalah kemenangan sementara. Tanpa ini jangan harap ekonomi tumbuh. Resesi tak terhindarkan di quartal III dan IV kalau begini terus.

Kita semua akan membayar mahal, gangguan kesehatan rakyat dan kontraksi ekonomi yg berat. Butuh effort yg besar utk menangani hal ini. Butuh kewibawaan pemimpin, butuh kedisiplinan rakyat, butuh penegakan hukum, dan teladan.

 

oleh : Paring Waluyo Utomo