4 hal yang perlu diwaspadai jika mendapat tawaran pinjaman online

Terlepas dari banyaknya kasus-kasus penyalahgunaan prosedur keuangan digital, pinjaman online atau pinjol tetap menjadi primadona beberapa tahun belakangan ini. Jumlah dana yang ditawarkan serta kemudahan pencairannya membuat pengguna platform keuangan digital ramai-ramai menginstalnya di gadget …

Terlepas dari banyaknya kasus-kasus penyalahgunaan prosedur keuangan digital, pinjaman online atau pinjol tetap menjadi primadona beberapa tahun belakangan ini. Jumlah dana yang ditawarkan serta kemudahan pencairannya membuat pengguna platform keuangan digital ramai-ramai menginstalnya di gadget masing-masing.

Pinjaman online hadir menjadi solusi kebutuhan keuangan yang mendesak. Pencairannya sendiri tidak memerlukan waktu lama. Bahkan, beberapa aplikasi menawarkan pencairan yang tidak sampai 5 menit, dana sudah ditransfer ke rekening pengguna pinjaman online.

Pihak penyedia jasa juga tak tanggung-tanggung menawarkan dana pinjaman dari kisaran 600.000 rupiah hingga angka lima puluh juta rupiah boleh diajukan oleh konsumennya. Bahkan beberapa aplikasi sudah menawarkan dana hingga ratusan rupiah. Fantastis bukan?.

Skema pembayaran juga dibuat semudah mungkin untuk menarik minat pelanggan, tentunya dibuat dengan bunga yang rendah serta tenor waktu yang panjang agar calon pengguna tertarik mengajukan pinjaman. Biasanya bunga pinjaman online mengikuti acuan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK sebagai lembaga yang mengawasi dan mendaftarkan perusahaan fintech ini.

Mengapa banyak fintech ilegal?

Otoritas Jasa keuangan atau OJK sebetulnya telah melakukan verifikasi yang detail kepada setiap pengajuan ijin-ijin perusahaan keuangan digital. Pengajuan yang masuk, akan diteliti,didaftarkan dan diawasi operasinya oleh lembaga milik pemerintah ini.Sayangnya, fintech ilegal tetap menjamur di Indonesia. Hal ini adalah bentuk ketidakpatuhan para pemilik perusahaan atas regulasi pemerintah.Niat untuk meraup keutungan perusahaan yang setinggi-tingginya tanpa menerapkan perjanjian pinjam-meminjam yang adil adalah penyebab utama.


Tak kapok akan ancaman sanksi Otoritas Jasa Keuangan, perusahaan-perusahaan ini bahkan tanpa ijin berdiri dan beroperasi secara ilegal dan sesuka hati menggaet pelanggannya. Caranya, dengan menebar ming-iming memperoleh dana yang cepat, dan jumlah yang tinggi. Namun kenyataannya adalah, ketika melakukan penagihan, pelanggan mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi. Manis di awal namun pahit di akhir begitulah nasib yang harus ditanggung oleh para korban. Tak sedikit yang mengalami tekanan psikis bahkan nyaris bunuh diri.

Para peminjam yang telat membayar kerap mendapatkan ancaman fisik, juga akan disebar data pribadinya kepada orang-orang yang dikenal pengguna di media sosial, serta banyak lagi cara yang tak manusiawi lainnya yang dipakai untuk menakut-nakuti peminjam agar segera melunasi hutangnya. Tak manusiawi, sadis dan kasar adalah perlakukan yang banyak dikeluhkan oleh penggunanya. Pinjaman online ilegal jelas-jelas mencederai reputasi keuangan digital yang diharapkan menjawab permasalahan perbankan akhir-akhir ini.

Leave a Comment